Jumat, 18 September 2015

Downcast!


Mungkin sebelum kalian mengenalku lebih dalam, pasti kalian akan mengira kehidupan keluargaku baik-baik aja. Iya memang.. terlihat baik dari luar tapi sebenarnya jauuuuhhhhh dari itu. Aku merasa terkekang dengan keadaan ini. Jika boleh memilih, aku lebih memilih tinggal bersama teman-temanku dibandingkan aku harus berada dirumah di kekang dan merasa seperti tertekan. Jujur, aku ingin seperti anak-anak yang lain. Diperhatikan orang tuanya selalu, ditegur dengan lembut, tidak membentak anak dengan keras bahkan tidak main fisik, tidak perhitungan dengan apapun yang dilakukan dan pastinya selalu mempertanggungjawabkan apa yang telah dijanjikan kepada sang anak. Aku capek, aku lelah, aku stress, dan aku frustasi jika harus menghadapi ini terus menerus. Pah! Mah! Friska nggak tahan harus begini teruuss. Friska ingin tenang, ini benar-benar membuat beban terberat buatku. Friska udah gede, udah kuliah. Harusnya bisa ngerti beban terberatku ada di jenjang perguruan tinggi ini, dimana aku harus serius menekuninya untuk masa depanku kelak! Friska ingin buat Papah dan Mamah bangga dengan kerja keras Friska, jerih payah Friska sendiri menempuh perjalanan ini. Apa salah jika aku meminta hak ku sebagai seorang anak yang ingin jauh dari kekerasan? Apa salah jika aku menginginkan kehidupan yang nyaman seperti orang-orang? Apa salah jika aku melakukan dengan caraku sendiri? Apa salah jika aku berharap lebih seperti ini? Apakah salaaaaahhh???? Yaa Tuhaaann.. bukalah hati mereka agar mereka tau, kami sebagai anak hanya meminta sedikit rasa peduli. Aku iri melihat cerita teman-temanku yang pergi weekend bersama keluarga sebelum bahkan sesudah ujian. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?? Aku tertekan, aku perlu refreshing dunia luar sana. Just it.
Aku tidak ingin kejadian dimasa lampau terulang lagi, disaat aku ingin memulai jalan menuju kesuksesan tapi terhambat karna keadaan keluarga yang tidak sepadan. Aku diam bukan berarti aku takut menghadapinya, aku hanya takut masalah kecil menjadi sebuah masalah yang rumit untuk di selesaikan. Untuk apa aku memberikan macam-macam ilustrasi untuk sekedar membuka pikiran mereka bahwa sebenarnya mendidik anak tidak harus bersuara keras. Bisakah kalian menegur kesalahanku dengan lembut?? Bisakah kalian mengajariku dengan cara yang sewajarnya?? Bukan dengan tindakan fisik hanya untuk memberi teguran. Aku benci dengan suara keras itu. Aku benci dengan teguran fisik itu. Aku benci semua tindakan kasar itu. Apakah itu bukti rasa sayang kalian padaku dengan menyiksa layaknya aku seekor anjing yang sembarangan masuk rumah dengan kaki yang penuh lumpur?
Aku benci dengan rotan itu. Karna dengan rotan itu aku dipukul karna aku tidak menurut apa kata mereka. Aku benci dengan korek api itu. karna disaat itu aku tidak bisa menyalakan korek api sehingga korek api itu mengenai telapak tanganku. Aku benci pada saat mati listrik. Karna disaat itu aku ditelanjangi oleh Papahku karna aku tidak mau makan dan lebih memilih diam tanpa kata. Aku benci dengan sepak bola. Karna aku ditendang layaknya seperti bola. Aku benci smua masa laluku.
Jika ditanya apakah aku menyesal memiliki orang tua seperti mereka, aku menjawab “Tidak”. seberapa kesalnya kepada mereka, tapi mereka tetaplah orang tua. Apapun yang terjadi aku hanya bisa berdoa untuk mereka. Aku harus sabar dan aku harus bisa menghadapi smuanya. Aku hanya menginginkan kedamaian dan ketentraman dalam keluarga. Aku mohon, berhenti untuk memperlakukanku seperti itu. Berhenti untuk memperdebatkan masalah kecil yang memicu konflik. Berhenti untuk bertengkar disaat aku berada di akhir masa kuliah kelak. Aku mohon!!! Sincerely, Friska.

2 komentar:

  1. AKu tau apa yang kau rasakan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah sekilas masa lalu yang pahit:" entah smpai kapan itu berlangsung..

      Hapus