Mungkin sebelum
kalian mengenalku lebih dalam, pasti kalian akan mengira kehidupan keluargaku
baik-baik aja. Iya memang.. terlihat baik dari luar tapi sebenarnya jauuuuhhhhh dari itu. Aku merasa
terkekang dengan keadaan ini. Jika boleh memilih, aku lebih memilih tinggal
bersama teman-temanku dibandingkan aku harus berada dirumah di kekang dan
merasa seperti tertekan. Jujur, aku ingin seperti anak-anak yang lain. Diperhatikan
orang tuanya selalu, ditegur dengan lembut, tidak membentak anak dengan keras
bahkan tidak main fisik, tidak perhitungan dengan apapun yang dilakukan dan
pastinya selalu mempertanggungjawabkan apa yang telah dijanjikan kepada sang
anak. Aku capek, aku lelah, aku stress,
dan aku frustasi jika harus menghadapi ini terus menerus. Pah! Mah! Friska nggak
tahan harus begini teruuss. Friska ingin tenang, ini benar-benar membuat beban
terberat buatku. Friska udah gede, udah kuliah. Harusnya bisa ngerti beban
terberatku ada di jenjang perguruan tinggi ini, dimana aku harus serius
menekuninya untuk masa depanku kelak! Friska ingin buat Papah dan Mamah bangga
dengan kerja keras Friska, jerih payah Friska sendiri menempuh perjalanan ini. Apa
salah jika aku meminta hak ku sebagai seorang anak yang ingin jauh dari
kekerasan? Apa salah jika aku menginginkan kehidupan yang nyaman seperti
orang-orang? Apa salah jika aku melakukan dengan caraku sendiri? Apa salah jika
aku berharap lebih seperti ini? Apakah salaaaaahhh???? Yaa Tuhaaann..
bukalah hati mereka agar mereka tau, kami sebagai anak hanya meminta sedikit
rasa peduli. Aku iri melihat cerita teman-temanku yang pergi weekend bersama
keluarga sebelum bahkan sesudah ujian. Kenapa
aku tidak bisa seperti mereka?? Aku tertekan, aku perlu refreshing dunia luar
sana. Just it.
Aku tidak
ingin kejadian dimasa lampau terulang lagi, disaat aku ingin memulai jalan
menuju kesuksesan tapi terhambat karna keadaan keluarga yang tidak sepadan. Aku
diam bukan berarti aku takut menghadapinya, aku hanya takut masalah kecil
menjadi sebuah masalah yang rumit untuk di selesaikan. Untuk apa aku memberikan
macam-macam ilustrasi untuk sekedar membuka pikiran mereka bahwa sebenarnya
mendidik anak tidak harus bersuara keras. Bisakah
kalian menegur kesalahanku dengan lembut?? Bisakah kalian mengajariku dengan
cara yang sewajarnya?? Bukan dengan tindakan fisik hanya untuk memberi
teguran. Aku benci dengan suara keras
itu. Aku benci dengan teguran fisik itu. Aku benci semua tindakan kasar itu.
Apakah itu bukti rasa sayang kalian
padaku dengan menyiksa layaknya aku seekor anjing yang sembarangan masuk rumah
dengan kaki yang penuh lumpur?
Aku benci dengan rotan itu. Karna dengan rotan itu
aku dipukul karna aku tidak menurut apa kata mereka. Aku benci dengan korek api itu. karna disaat itu aku tidak bisa
menyalakan korek api sehingga korek api itu mengenai telapak tanganku. Aku benci pada saat mati listrik. Karna disaat
itu aku ditelanjangi oleh Papahku karna aku tidak mau makan dan lebih memilih
diam tanpa kata. Aku benci dengan sepak
bola. Karna aku ditendang layaknya seperti bola. Aku benci smua masa
laluku.
Jika ditanya
apakah aku menyesal memiliki orang tua seperti mereka, aku menjawab “Tidak”. seberapa kesalnya kepada
mereka, tapi mereka tetaplah orang tua. Apapun yang terjadi aku hanya bisa
berdoa untuk mereka. Aku harus sabar dan aku harus bisa menghadapi smuanya. Aku
hanya menginginkan kedamaian dan ketentraman dalam keluarga. Aku mohon, berhenti
untuk memperlakukanku seperti itu. Berhenti untuk memperdebatkan masalah kecil
yang memicu konflik. Berhenti untuk bertengkar disaat aku berada di akhir masa
kuliah kelak. Aku mohon!!! Sincerely,
Friska.

AKu tau apa yang kau rasakan :D
BalasHapusItulah sekilas masa lalu yang pahit:" entah smpai kapan itu berlangsung..
Hapus