Opening
Di taman
sekolah..
“Kok
hari ini panas banget ya?” ucap Vivin di sela keheningannya.
“Entahlah,
Vin. Mungkin karna kegiatan kita yang full banget hari ini..” sahut Ika sambil
mengelus keringat di wajahnya.
Nampaknya
pengambilan nilai Ujian praktek mereka yang cukup melelahkan itu benar-benar
menguras tenaga. Tapi apa boleh buat, mereka sudah seharusnya sesibuk ini karna
mereka telah di akhir perjuangan di tingkat SMA. Mereka memang harus berjuang
untuk mendapatkan hasil yang memuaskan agar mereka masuk Universitas sesuai
keinginan mereka. Ya.. tidak terkecuali Ika dan Vivin, dua sahabat yang sudah
dekat selama 3 tahun ini.
“Emm,
Vin.. gue beli minum dulu ya..”
“Oke
deh, Ka. Buruan ya, keburu gue dehidrasi nih..” jawab Vivin menggoda Ika yang
terlihat memamerkan wajah kusutnya.
Tidak
lama setelah itu, Ika segera pergi ke kantin untuk membeli dua minuman untuknya
dan Vivin. Sambil menunggu minuman dari Ika, Vivin hanya duduk sambil memainkan
Hp di taman sekolah.
Di
sela waktu santai nya, tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan menepuk
pundak Vivin.
“Hei..”
“Eh,
elo Ndi. Sejak kapan lo disini? Udah lama ya?”
“Gak
kok, Vin. Baru aja. Tumben lo sendirian di taman, Ika mana?”
“Ika
lagi ke kantin beli minum. Mana dia belinya lama banget lagi, gue dehidrasi
nih..” ucap Vivin sambil memegang tenggorokannya yang benar-benar merasa
kering.
“Haha..
kayaknya lo capek banget ya, sampe dehidrasi segala..” jawab Andi tertawa lepas
sambil mengelus rambut Vivin.
Vivin
dan Andi memang sangat dekat. Sehingga banyak yang mengira mereka berdua memang
mempunyai hubungan dekat. Padahal tidak. Mereka memang dekat, mungkin belum
saatnya untuk mereka lebih dari sekedar teman.
∞
Di kantin..
“Bu,
beli pulpy orange nya dua ya..”
“Pulpy
nya udah habis, mbak..” sahut si penjual.
“Oh,
gitu ya, bu. Makasih ya bu..” dengan perasaan kecewa Ika berlalu pergi dari
kantin. Tiba-tiba..
“Lo
kayaknya benar-benar kelelahan dengan Ujian praktek barusan. Nih.. minum buat
lo..” seseorang dengan santainya menyodorkan pulpy orange nya pada Ika.
“Hah?
Nggak usah.. kan minumannya punya lo. Makasih..” jawab Ika sungkan.
“Nggak
papa kok. Lo udah dehidrasi banget. Ambil aja..” Randy kembali menyodorkan
minumannya pada Ika sambil tersenyum dan disambut baik oleh Ika.
“Makasih..”
Randy
terkenal dengan sikapnya yang angkuh pada cewek. Entah kenapa sikap angkuh itu
tidak berlaku pada Ika. Orang yang selama ini diincar Randy. Randy memang
menyukai Ika semenjak mereka kelas XI. Sosok Ika yang baik, ramah, sopan dan
anggun itu membuat Randy benar-benar terpikat. Ika memang tidak pernah
menyadarinya, karna mereka memang tidak terlalu dekat.
∞
“Vin,
sorry. Lo udah lama nunggu ya?” terdengar suara Ika dari belakang Vivin dan
Andi.
“Lo
lama banget sih, Ka. Gue udah dehidrasi banget tau nggak nunggu lo. Untung aja
ada Andi yang kebetulan bawa minuman..” Vivin tersenyum menatap Andi yang duduk
disebelahnya dan dibalas senyuman Andi pula.
“Lo tau nggak, Vin. Gue
tadi ketemu Randy di kantin. Tumbenan itu cowok nggak sok keren sama cewek..”
dengan perasaan heran Ika kembali mengingat pertemuan singkatnya dengan Randy
barusan. “Bahkan dia sempat senyum sama gue. Aneh kan?” sambung Ika.
Mendengar
cerita Ika, Vivin dan Andi hanya tersenyum. Membuat Ika kesal melihat respon
mereka yang hanya tersenyum tanpa mengucapkan satu katapun dengan keanehan yang
ia rasakan.
Terdengar
aneh memang. Orang yang terkenal angkuh dengan kekayaan yang dimilikinya mendadak
berubah 180˚ saat berpapasan dengan Ika. Tidak ada yang menyadari bahwa Randy
menyukai Ika. Randy selalu berhasil bersikeras dengan sikap angkuhnya. Tidak
ada satupun gadis yang berhasil mencuri hati seorang Randy.
“Kayaknya
Randy naksir elo deh, Ka. Lo sadar nggak sih? Makanya peka dong..” dengan tawa
jailnya, Andi berusaha meyakinkan.
“Hah?!
Lo apaan sih. Nggak mungkin lah, Randy Pratama naksir gue. Mustahil banget. Lo kan
tau sendiri, dia sok keren banget sama cewek..”
“Nih
ya, Ka. Di dunia ini nggak ada yang mustahil terjadi. Mungkin aja apa yang
dibilang Andi ada benernya. Buktinya, sama lo aja dia senyum apalagi sampe
negur lo segala. Apa nggak naksir itu namanya?!” sambung Vivin menyetujui perkataan Andi yang disambut
dengan tawa jail mereka.
“VIVIN!!”
To be continue..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar