Selasa, 22 September 2015

Love Dream



Hi guys! Kali ini aku mau posting kelanjutan dari Love Dream aku yang sebelumnya. Pasti bingung kan gimana kelanjutan nya? Iya kan? Haha. Sebenarnya alurnya yaa.. begitulah. Belum full banget sih apa isi ceritanya, berhubung belum ada inspirasi buat kelanjutan kisahnya seperti apa. Aku sih sengaja aja lama baru posting kelanjutan nya, biar kalian pada bingung dan dibuat penasaran. Haha. Jahat banget yahh aku wkwk.. Tapi, semoga kalian tertarik yaa..




Part 1
 
KRINGG…..
Tiba-tiba suara Hp Ika berdering.
“Kenapa sih, Vin?” masih dalam keadaan ngantuk, dengan berat hati Ika mengangkat telpon dari Vivin.
“Jangan bilang lo baru bangun?! Ya ampun. Lo kebiasaan deh, Ka. mentang-mentang kita libur sehabis Ujian. Buruan wake up trus mandi sana. Nggak pake lama ya..” suara dari seberang pun terputus tanpa sempat Ika menjawab.
“Dasar Vivin!! Kebiasaan banget, belum sempat gue jawab udah diputusin aja telponnya. Emang mau kemana sih?” dengan perasaan bingung Ika berusaha mengingat dalam keadaan mengantuk.
Gue lupa. Hari ini kan gue udah janji temenin Vivin ke toko buku. Ya ampun, kenapa harus lupa gini sih? Dengan segera Ika bergegas lari ke kamar mandi.

“Lo udah lama disini, Vin? Sorry, gue beneran lupa tadi..”
“Iya nggak papa. Awas aja kalo lain kali lo lupa sama janji..”
“Iya nyonya Vivin yang cantik jelita. Yuk, mending kita langsung berangkat aja..” dengan segera Ika berpamitan dengan Mama nya dan pergi bersama Vivin.

∞

Di toko buku..
“Aauuww..”
Tiba-tiba seseorang menabrak Ika. Sehingga menyebabkan buku Ika dan orang itu terjatuh.
Sambil mengambil bukunya yang terjatuh, Ika menyambar orang itu dengan perasaan kesal, “Heh, kalo baca buku itu bisa nggak diam di tempat aja atau duduk gitu?”
Orang itu hanya diam sambil mengambil bukunya yang tadi juga ikut terjatuh berlalu pergi.
“HEH?1 lo dengar nggak sih gue ngomong? Udah nabrak nggak minta maaf lagi..” sontak semua mata tertuju pada Ika yang membentak orang itu dengan nada tinggi. Termasuk Vivin, yang sedari tadi sibuk mencari buku.
Vivin pun segera menghampiri Ika, “Ada apa sih, Ka? Lo nggak malu apa diliatin banyak orang? Udahlah..”
“Ini nih, cowok ini udah nabrak gue. Udah gitu nggak minta maaf lagi..” Ika menjawab masih dengan nada kesal.
“Maaf. Gue nggak sengaja.. gue pikir lo patung.” Cowok itu berlalu pergi ke kasir dan keluar dari toko buku.
“ELO!! Dasar cowok aneh..”

∞

Setibanya dirumah, Ika langsung masuk ke kamar. Meninggalkan Vivin dan Mama nya di ruang tamu. Meskipun Vivin tau, kejadian di toko buku tadi memang membuat Ika menjadi badmood. Karna sepanjang perjalanan Ika terus ngomel atas peristiwa tersebut.
“Mm, tante. Vivin pulang dulu.. udah malam nih. Permisi..”
“Iya. Kamu hati-hati ya, Vin. Salam buat Mamamu ya..”
“Pasti tante, nanti Vivin salamin..” Sesudah setelah itu, Vivin hengkang dari rumah Ika.

“Ka?” panggil Mama sambil mengetuk pintu kamar Ika.
Dengan segera Ika menyahut panggilan Mamanya dan segera membukakan pintu kamarnya, “Iya, Ma.”
“Tadi Vivin mau bilang makasih sama Kamu karna udah diantarin ke toko buku. Kamu kenapa? Kok langsung masuk kamar? Berantem sama Vivin ya, Ka?” Tanya Mama penasaran melihat ekspresi Ika yang terlihat kusut.
“Ah, nggak kok, Ma. Ika sama Vivin baik-baik aja. Ika cuma kesal aja tadi waktu di toko buku..”
“Memangnya ada apa, Ka?” Tanya Mama yang terlihat antusias.
“Nggak kok, Ma. Ihh.. Mama kepo banget sama urusan anak muda. Udah ah.. Ika capek, Ma. Pengen tidur aja, selamat malam Mamaku sayang.” Ika pun menarik selimutnya dan memejamkan matanya.
Mama hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah anaknya dan segera meninggalkan kamar Ika.

Hari ini benar-benar hari yang sangat menyebalkan bagiku. Harus bertemu dengan cowok yang udah menabrak dirinya sewaktu di toko buku dan berlalu pergi begitu saja dengan cueknya..
Ya ampun, semoga aja ini menjadi pertemuan yang pertama dan terakhirku dengan cowok jutek itu..
Pikir Ika dalam hati dan segera tidur.


To be continue…


Nahh, sampe disini dulu yaa postingan nya. Hehe. Tapi pasti aku posting kok kelanjutan nya bakalan gimana. Hehe. Semoga kalian penasaran yahh..

Jumat, 18 September 2015

Downcast!


Mungkin sebelum kalian mengenalku lebih dalam, pasti kalian akan mengira kehidupan keluargaku baik-baik aja. Iya memang.. terlihat baik dari luar tapi sebenarnya jauuuuhhhhh dari itu. Aku merasa terkekang dengan keadaan ini. Jika boleh memilih, aku lebih memilih tinggal bersama teman-temanku dibandingkan aku harus berada dirumah di kekang dan merasa seperti tertekan. Jujur, aku ingin seperti anak-anak yang lain. Diperhatikan orang tuanya selalu, ditegur dengan lembut, tidak membentak anak dengan keras bahkan tidak main fisik, tidak perhitungan dengan apapun yang dilakukan dan pastinya selalu mempertanggungjawabkan apa yang telah dijanjikan kepada sang anak. Aku capek, aku lelah, aku stress, dan aku frustasi jika harus menghadapi ini terus menerus. Pah! Mah! Friska nggak tahan harus begini teruuss. Friska ingin tenang, ini benar-benar membuat beban terberat buatku. Friska udah gede, udah kuliah. Harusnya bisa ngerti beban terberatku ada di jenjang perguruan tinggi ini, dimana aku harus serius menekuninya untuk masa depanku kelak! Friska ingin buat Papah dan Mamah bangga dengan kerja keras Friska, jerih payah Friska sendiri menempuh perjalanan ini. Apa salah jika aku meminta hak ku sebagai seorang anak yang ingin jauh dari kekerasan? Apa salah jika aku menginginkan kehidupan yang nyaman seperti orang-orang? Apa salah jika aku melakukan dengan caraku sendiri? Apa salah jika aku berharap lebih seperti ini? Apakah salaaaaahhh???? Yaa Tuhaaann.. bukalah hati mereka agar mereka tau, kami sebagai anak hanya meminta sedikit rasa peduli. Aku iri melihat cerita teman-temanku yang pergi weekend bersama keluarga sebelum bahkan sesudah ujian. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?? Aku tertekan, aku perlu refreshing dunia luar sana. Just it.
Aku tidak ingin kejadian dimasa lampau terulang lagi, disaat aku ingin memulai jalan menuju kesuksesan tapi terhambat karna keadaan keluarga yang tidak sepadan. Aku diam bukan berarti aku takut menghadapinya, aku hanya takut masalah kecil menjadi sebuah masalah yang rumit untuk di selesaikan. Untuk apa aku memberikan macam-macam ilustrasi untuk sekedar membuka pikiran mereka bahwa sebenarnya mendidik anak tidak harus bersuara keras. Bisakah kalian menegur kesalahanku dengan lembut?? Bisakah kalian mengajariku dengan cara yang sewajarnya?? Bukan dengan tindakan fisik hanya untuk memberi teguran. Aku benci dengan suara keras itu. Aku benci dengan teguran fisik itu. Aku benci semua tindakan kasar itu. Apakah itu bukti rasa sayang kalian padaku dengan menyiksa layaknya aku seekor anjing yang sembarangan masuk rumah dengan kaki yang penuh lumpur?
Aku benci dengan rotan itu. Karna dengan rotan itu aku dipukul karna aku tidak menurut apa kata mereka. Aku benci dengan korek api itu. karna disaat itu aku tidak bisa menyalakan korek api sehingga korek api itu mengenai telapak tanganku. Aku benci pada saat mati listrik. Karna disaat itu aku ditelanjangi oleh Papahku karna aku tidak mau makan dan lebih memilih diam tanpa kata. Aku benci dengan sepak bola. Karna aku ditendang layaknya seperti bola. Aku benci smua masa laluku.
Jika ditanya apakah aku menyesal memiliki orang tua seperti mereka, aku menjawab “Tidak”. seberapa kesalnya kepada mereka, tapi mereka tetaplah orang tua. Apapun yang terjadi aku hanya bisa berdoa untuk mereka. Aku harus sabar dan aku harus bisa menghadapi smuanya. Aku hanya menginginkan kedamaian dan ketentraman dalam keluarga. Aku mohon, berhenti untuk memperlakukanku seperti itu. Berhenti untuk memperdebatkan masalah kecil yang memicu konflik. Berhenti untuk bertengkar disaat aku berada di akhir masa kuliah kelak. Aku mohon!!! Sincerely, Friska.

Love Dream

Hi guys! kali ini aku mau posting sedikit tentang apa yang aku pikirkan lewat cerita novel singkat ini. Nggak banyak sih karna masih awal dan belum banyak ide yang muncul. Hehe. Mungkin nggak terlalu famous ya, karna cerita ini juga terinspirasi dari banyaknya novel yang aku baca. So, enjoy it!





Opening


Di taman sekolah..
“Kok hari ini panas banget ya?” ucap Vivin di sela keheningannya.
“Entahlah, Vin. Mungkin karna kegiatan kita yang full banget hari ini..” sahut Ika sambil mengelus keringat di wajahnya.
Nampaknya pengambilan nilai Ujian praktek mereka yang cukup melelahkan itu benar-benar menguras tenaga. Tapi apa boleh buat, mereka sudah seharusnya sesibuk ini karna mereka telah di akhir perjuangan di tingkat SMA. Mereka memang harus berjuang untuk mendapatkan hasil yang memuaskan agar mereka masuk Universitas sesuai keinginan mereka. Ya.. tidak terkecuali Ika dan Vivin, dua sahabat yang sudah dekat selama 3 tahun ini.

“Emm, Vin.. gue beli minum dulu ya..”
“Oke deh, Ka. Buruan ya, keburu gue dehidrasi nih..” jawab Vivin menggoda Ika yang terlihat memamerkan wajah kusutnya.
Tidak lama setelah itu, Ika segera pergi ke kantin untuk membeli dua minuman untuknya dan Vivin. Sambil menunggu minuman dari Ika, Vivin hanya duduk sambil memainkan Hp di taman sekolah.
Di sela waktu santai nya, tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan menepuk pundak Vivin.

“Hei..”
“Eh, elo Ndi. Sejak kapan lo disini? Udah lama ya?”
“Gak kok, Vin. Baru aja. Tumben lo sendirian di taman, Ika mana?”
“Ika lagi ke kantin beli minum. Mana dia belinya lama banget lagi, gue dehidrasi nih..” ucap Vivin sambil memegang tenggorokannya yang benar-benar merasa kering.
“Haha.. kayaknya lo capek banget ya, sampe dehidrasi segala..” jawab Andi tertawa lepas sambil mengelus rambut Vivin.
Vivin dan Andi memang sangat dekat. Sehingga banyak yang mengira mereka berdua memang mempunyai hubungan dekat. Padahal tidak. Mereka memang dekat, mungkin belum saatnya untuk mereka lebih dari sekedar teman.

∞

Di kantin..
“Bu, beli pulpy orange nya dua ya..”
“Pulpy nya udah habis, mbak..” sahut si penjual.
“Oh, gitu ya, bu. Makasih ya bu..” dengan perasaan kecewa Ika berlalu pergi dari kantin. Tiba-tiba..
“Lo kayaknya benar-benar kelelahan dengan Ujian praktek barusan. Nih.. minum buat lo..” seseorang dengan santainya menyodorkan pulpy orange nya pada Ika.
“Hah? Nggak usah.. kan minumannya punya lo. Makasih..” jawab Ika sungkan.

“Nggak papa kok. Lo udah dehidrasi banget. Ambil aja..” Randy kembali menyodorkan minumannya pada Ika sambil tersenyum dan disambut baik oleh Ika.
“Makasih..”

Randy terkenal dengan sikapnya yang angkuh pada cewek. Entah kenapa sikap angkuh itu tidak berlaku pada Ika. Orang yang selama ini diincar Randy. Randy memang menyukai Ika semenjak mereka kelas XI. Sosok Ika yang baik, ramah, sopan dan anggun itu membuat Randy benar-benar terpikat. Ika memang tidak pernah menyadarinya, karna mereka memang tidak terlalu dekat.

∞

“Vin, sorry. Lo udah lama nunggu ya?” terdengar suara Ika dari belakang Vivin dan Andi.
“Lo lama banget sih, Ka. Gue udah dehidrasi banget tau nggak nunggu lo. Untung aja ada Andi yang kebetulan bawa minuman..” Vivin tersenyum menatap Andi yang duduk disebelahnya dan dibalas senyuman Andi pula.
“Lo tau nggak, Vin. Gue tadi ketemu Randy di kantin. Tumbenan itu cowok nggak sok keren sama cewek..” dengan perasaan heran Ika kembali mengingat pertemuan singkatnya dengan Randy barusan. “Bahkan dia sempat senyum sama gue. Aneh kan?” sambung Ika.

Mendengar cerita Ika, Vivin dan Andi hanya tersenyum. Membuat Ika kesal melihat respon mereka yang hanya tersenyum tanpa mengucapkan satu katapun dengan keanehan yang ia rasakan.

Terdengar aneh memang. Orang yang terkenal angkuh dengan kekayaan yang dimilikinya mendadak berubah 180˚ saat berpapasan dengan Ika. Tidak ada yang menyadari bahwa Randy menyukai Ika. Randy selalu berhasil bersikeras dengan sikap angkuhnya. Tidak ada satupun gadis yang berhasil mencuri hati seorang Randy.

“Kayaknya Randy naksir elo deh, Ka. Lo sadar nggak sih? Makanya peka dong..” dengan tawa jailnya, Andi berusaha meyakinkan.
“Hah?! Lo apaan sih. Nggak mungkin lah, Randy Pratama naksir gue. Mustahil banget. Lo kan tau sendiri, dia sok keren banget sama cewek..”
“Nih ya, Ka. Di dunia ini nggak ada yang mustahil terjadi. Mungkin aja apa yang dibilang Andi ada benernya. Buktinya, sama lo aja dia senyum apalagi sampe negur lo segala. Apa nggak naksir itu namanya?!” sambung Vivin  menyetujui perkataan Andi yang disambut dengan tawa jail mereka.
“VIVIN!!”




To be continue..